Bab menunjukkan bahwa metabolit benzene dapat menyebabkan disregulasi apoptosis

Bab I

Pendahuluan

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

1.1.   Latar Belakang Penelitian

Benzene merupakan bahan
kimia yang banyak digunakan terutama sebagai precursor dalam pembuatan beberapa
jenis karet, pelumas, pewarna, deterjen, obat-obatan, plastik dan pestisida. Benzene juga ditemukan pada bensin tanpa
timbal, asap rokok dan emisi industri. Paparan Benzene sudah diketahui memiliki
efek karsinogenik.

Dalam
industri migas, benzene merupakan salah
satu bahan kimia yang berbahaya yang terkandung dalam produk-produknya, baik produk
mentah maupun produk jadi memiliki kandungan benzene. Keberadaan benzene
dalam produk migas dapat secara alami terdapat dalam produk tersebut sejak
dari proses ekplorasi, maupun benzene yang timbul karena adanya proses
pengolahan dan produksi.

Paparan tingkat tinggi benzene merangsang aktivitas CYP2E1
untuk mengoksidasi benzene membentuk
metabolit benzene, dan berkonjugasi dengan glutathion sebagai mekanisme
pertahanan terhadap senyawa toksik.

Dalam
proses metabolismenya, benzene dapat
secara enzimatik diaktivasi menjadi zat antara reaktif yang dapat menyebabkan
peningkatan pembentukan reactive oxygen
species (ROS).

ROS
diketahui merusak protein, lipid dan DNA, yang dapat memulai karsinogenesis.
Metabolit benzene telah terbukti
menginduksi kerusakan DNA oksidatif, peroksidasi lipid, meningkatkan kadar
enzim antioksidan dan sebagainya, mendukung peran ROS dalam toksisitas benzene.

Berbagai
penelitian telah banyak dilakukan untuk mengetahui efek pajanan benzene terhadap
kesehatan manusia, terutama terhadap kerusakan sel, kromosom dan efek
karsinogenik. Penelitian dilakukan baik terhadap binatang maupun penelitian
terhadap manusia secara langsung. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
metabolit benzene dapat menyebabkan
disregulasi apoptosis akibat inhibisi caspase-3, yang berkontribusi terhadap
karsinogenesis.

Salah satu zat yang dapat menghambat ROS adalah zat
yang memiliki sifat antioksidan. Vitamin A, D, E sebagai antioksidan larut
lemak, menjadi antioksidan utama dalam membran sel dengan cara melindungi
komponen membran sel dari oksidasi radikal bebas (ROS).

 

1.2.  
Identifikasi
Masalah

Paparan benzene kepada pekerja di industri migas secara terus
menerus dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, kerusakan sel maupun efek karsinogenik
jika terpajan dalam waktu yang lama dan atau dalam dosis yang cukup besar.

Berdasarkan
informasi dan kajian dari literatur bahwa belum ada penelitian untuk mengetahui
pengaruh status vitamin larut lemak sebagai antioksidan dalam kerusakan sel
pada pekerja yang terpapar benzene.

Maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan membuktikan pengaruh dan
hubungan dari status vitamin larut lemak (A, D dan E) terhadap kerusakan sel pada
pekerja yang terpapar benzene pada
industri migas sebagai upaya pencegahan terhadap kerusakan sel akibat stres
oksidatif.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis membatasi permasalahan yang akan diangkat
dalam penelitian ini yaitu :

“Apakah ada pengaruh dan hubungan
antara status vitamin larut lemak (A, D dan E) dalam tubuh terhadap kerusakan
sel pada pekerja yang terpapar benzene di industri migas”.

 

1.3.  
Tujuan
Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan hubungan antara
status vitamin larut lemak (A, D dan E) dalam tubuh terhadap kerusakan sel pada
pekerja yang terpapar benzene di industri migas

 

1.4.  
Kegunaan
Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat berupa :

1.      Pemberian informasi tentang
hubungan antara status vitamin larut lemak (A, D dan E) dengan kerusakan sel
pada pekerja yang terpapar benzene

2.      Menambah informasi dalam rangka
mengembangkan ilmu pengetahuan tentang benzene,
khususnya hubungan antara pajanan benzene
di lingkungan kerja terhadap kerusakan sel

3.      Bahan masukan kepada manajerial
pengelola industri migas untuk melakukan upaya pencegahan dan pengendalian
terhadap kerusakan sel akibat stress oksidatif akibat dari paparan benzene. Dengan diketahuinya hubungan paparan benzene terhadap risiko
kesehatan pekerja maka perusahaan akan dapat lebih hati?hati dan mempunyai tindakan-tindakan preventif untuk menghindarkan
pekerja terhadap penyakit akibat kerja karena pengaruh paparan benzene. Perusahaan
diharapkan dapat menerapkan teknologi yang tepat guna untuk meminimasi adanya
paparan benzene kepada pekerja dan lingkungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

Kajian Pustaka, Kerangka
Pemikiran dan Hipotesis

 

1.    

2.    

2.1.  
Kajian
Pustaka

A.    Benzene

Benzene,
juga dikenal sebagai benzol, adalah hidrokarbon cair dan merupakan pelarut yang
sangat efektif. Benzene tidak
berwarna dan berbau harum. Benzene sangat
cepat menguap ke
udara, sedikit larut dalam air, dan sangat mudah terbakar.

Gambar 2.1. Molekul Benzene

Benzene dapat ditemukan
dalam berbagai industri maupun sumber alam. Benzene
digunakan sebagai konstituen dalam bahan bakar motor, sebagai pelarut untuk
lemak, lilin, resin, minyak, tinta, cat, plastik, dan karet; dalam ekstraksi
minyak dari biji. Benzene juga
digunakan sebagai perantara bahan kimia, dalam pembuatan deterjen, bahan peledak,
obat-obatan, dan zat warna.

Agency for Toxic Substances and Disease Registry
(ATSDR) pada tahun 2015, menempatkan benzene
dalam posisi ke 6 dalam daftar prioritas zat yang menunjukkan potensi ancaman
paling signifikan terhadap kesehatan manusia berdasarkan kombinasi
frekuensinya, toksisitas dan potensi paparan manusia.

Toksikokinetika Benzene

Benzene
dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui
saluran pernafasan (tenggorokan dan paru?paru),
jalur gastrointertinal dan dapat melalui kulit. Ketika seseorang menghirup benzene
dalam konsentrasi yang tinggi, maka kira?kira
setengah dari konsentrasi tersebut akan masuk ke dalam saluran pernafasan yang
kemudian masuk ke dalam aliran darah.

Ketika
seseorang terpapar benzene melalui makanan dan minuman maka sebagian
besar benzene akan masuk ke dalam jaringan gastrointestinal dan masuk
kedalam jaringan darah. Sebagian kecil benzene akan masuk melalui kulit
dengan adanya kontak langsung antara kulit dan benzene atau produk yang
mengandung benzene. Dalam jaringan darah benzene akan beredar
keseluruh tubuh dan akan disimpan sementara dalam sumsum tulang dan lemak yang
kemudian akan dikonversi menjadi produk metabolisme di dalam hati dan sumsum
tulang. Sebagian besar hasil metabolisme akan keluar melalui urin dengan waktu
sekitar 48 jam setelah ada paparan.

 

a.
Absorbsi

Benzene
apabila tidak segera dikeluarkan melalui
ekspirasi, maka akan diabsorbsi ke dalam darah. Benzene larut dalam
cairan tubuh dalam konsentrasi rendah dan secara cepat dapat terakumulasi dalam
jaringan lemak karena kelaturannya yang tinggi dalam lemak. Uap benzene mudah
diabsorbsi oleh darah yang sebelumnya diabsorbsi oleh jaringan lemak. Absorbsi benzene
ke dalam jaringan tubuh dapat melalui beberapa cara yaitu pernafasan
(inhalasi), melalui kulit (dermal) dan melalui saluran pencernaan
(gastrointestinal).

1)
Inhalasi (pernafasan)

Benzene
masuk ke dalam tubuh dalam bentuk uap
melalui inhalasi dan absorbsi terutama melalui paru?paru,
jumlah uap benzene yang diinhalasi sekitar 40 ?
50% dari keseluruhan jumlah benzene yang masuk ke dalam tubuh.

Benzene
mudah diabsorbsi melalui saluran
pernafasan, ketahanan paru?paru
mengabsorbsi benzene lebih kurang 50% untuk beberapa jam paparan
diantara 2 ?
100 cm3/m3.

2)
Dermal (kontak kulit)

Diperkirakan
dari studi in vitro yang dilakukan pada kulit manusia, bahwa absorbsi benzene
melalui kulit, lebih kecil dibandingkan dengan total absorbsi, tetapi
absorbsi dari gas benzene dapat merupakan rute paparan yang signifikan.

3)
Gastrointestinal (pencernaan)

Absorbsi
benzene melalui saluran pencernaan dapat mengakibatkan efek akut yang
membahayakan. Efek akut yang terjadi antara lain:

a)
Dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan muntah?muntah.

b)
Dapat mempengaruhi pada sistem syaraf pusat yang dapat menyebabkan kejang,
tremor, iritasi, tertekan/depresi, kehilangan keseimbangan dan koordinasi,
pening, sakit kepala, kepucatan.

c)
Dapat mengganggu saluran pernafasan yaitu susah bernafas dan kontraksi dada

d)
Dapat menggangu sistem kardiovaskuler dengan gejala denyut nadi yang melemah
ataupun denyut nadi yang semakin kencang

e)
Gangguan pada sistem darah

b.
Distribusi

Benzene
terdistribusi ke seluruh tubuh melalui
absorbsi dalam darah, kerena benzene adalah lipofilik, maka distribusi
terbesar adalah dalam jaringan lemak. Jaringan lemak, sumsum tulang dan urin
mengandung benzene kira?kira
20 lebih banyak dari yang terdapat dalam darah. Kadar benzene dalam otot
dan organ 1?3
kali lebih banyak dibandingkan dalam darah. Sel darah merah mengandung benzene
dua kali lebih banyak dari pada dalam plasma.

c.
Metabolisme

Tahap
pertama metabolisme di hati adalah oksidasi benzene menjadi benzene oksida
dengan katalalis cytochrome p?450?dependent?monooxygenase.
Benzene oksida kemudian mencapai keseimbangan dengan exepin.

Metabolit
adalah bahan yang dihasilkan secara langsung oleh reaksi biotransformasi.
Setelah reaksi oksidasi ini, beberapa metabolit sekunder akan terbentuk secara
enzimatik dan non enzimatik. Biotransformasi benzene dalam tubuh berupa
metabolit akhir yang utama adalah fenol yang dieksresikan lewat urin dalam
bentuk konjugasi dengan asam sulfat atau glukuronat. Sejumlah kecil
dimetabolisme menjadi kathekol, karbon dioksida dan asam mukonat. Reaksi
metabolisme benzene diilustrasikan dalam gambar 2.2.

Gambar 2.2. Metabolisme Benzene

Glukoronida
dan konjugat sulfat dari fenol merupakan metabolit benzene dalam urin
yang paling utama. Konjugat yang lain, kathekol dan quinol, asam merkapturat,
trans?trans?muconic
acid dan produk reaksi dari benzene dengan
guananine, N?7?phenyl?guananine.
Karena beberapa bahan kimia juga dimetabolisme oleh sistem enzim yang sama,
dapat diperkirakan bahwa kombinasi pajanan secara simultan dapat mengakibatkan
interaksi metabolik.

d.
Eliminasi dan Ekskresi

Dari
beberapa data ditemukan bahwa jika terjadi pajanan benzene melalui
saluran pernafasan maka rute utama untuk mengurangi benzene yang tidak
termetabolisme adalah melalui ekshalasi. Penyerapan benzene dapat
diekskresi melalui proses metabolisme fenol dan muconic acid melalui
ekskresi urin pada pembentukan konjugasi berupa sulfat dan glucuronides.
Diperkirakan bahwa sesudah perpajan benzene ditempat kerja pada tingkat
100 cm3/m3, sejumlah 13,2% fenol, 10,2% quinol, 1,9% t,t,muconic acid, 1,6%
kathekol dan 0,5% 1,2,4?benzenatriol
dari jumlah diabsorbsi, diekskresikan lewat urine sesudah jam kerja.
Proporsi benzene yang diabsorbsi kemudian diekskresikan melalui
ekshalasi adalah 8?17%.
Sejumlah kecil benzene juga terdeteksi dalam urin.

Eliminasi
benzene di tempat kerja mengikuti kinetika reaksi orde satu, waktu paruh
tergantung pada disposisi benzene pada beberapa bagian tubuh.

Waktu
paruh yang lebih pendek dilaporkan kira?kira
10?15
menit, sedang 40?50
menit dan lama 16?20
menit.

 

B.     Pemantuan
Biologis Pada Pemajanan Benzene

1.      Biomonitoring
dan Penanda Biologi

Telah diketahui bahwa untuk mengevaluasi
suatau pajanan bahan kimia terhadap manusia, tergantung dari sifat fisiokimia
suatu bahan, hygiene pada manusia itu sendiri, serta beberapa faktor biologi
seperti umur dan jenis kelamin.

Untuk mempelajari kandungan bahan kimia
dalam tubuh manusia dan efek biologi dari bahan kimia tersebut dipakai metode
pemantauan biologis (biological monitoring).

Keuntungan dari pemakaian metode ini
adalah terkaitnya bahan kimia secara sistematik yang dapat dipakai untuk
memperkirakan risiko yang terjadi.

Secara umum tujuan kegiatan pemantuan
biologi adalah sema dengan pemantauan ambien, yaitu mencegah terjadinya bahan
kimia yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan baik secara akut maupun kronis.
Dalam hubungan risiko terhadap kesehatan, pendekatan permantauan biologis dan
pemantauan ambien terhdap risiko kesehatan dapat dinilai antara lain dengan
membandingkan hasil perhitungan parameter dengan nilai ambang batas maksimum
yang diperkenankan yaitu Threshold Limit Value (TLV) atau Biologial Limit Value
(BLV).

Seperti halnya pemantauan ambien, maka
pemantuan biologi suatu pajanan merupakan aktifitas pencegahan yang sangat
penting dalam mendeteksi efek suatu bahan kimia. Hal ini disebut sebagai
aktifitas surveilen kesehatan (health surveillance).

Khusus untuk petanda biologi yang peka
(sensitive biological makers), suatu pemantauan biologi bertujuan untuk
mendeteksi dan mengetahui tanda keracunan secara dini sebagai aktifitas
pencegahan.

Untuk menilai risiko kesehatan dari suatu
bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh, efektif menggunakaan cara pemantauan
biologi. Benzene masuk ke dalam tubuh
melalui saluran pernafasan, kulit dan saluran pencernaan yan bersumber dari
tempat kerja dan lingkungan lainnya dapat dilakukan dengan pemantauan biologi.
Selain itu, hasil pemantauan biologi dari pajanan benzene ditentukan oleh faktor individu dan dipengaruhi oleh cara
masukanya serta absorbs bahan tersebut di dalam tubuh. Faktor individu yang
mempengaruhi antara lain : lama pajanan, masa kerja, aktifitas fisik, status
gizi, dan kesehatan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan tes
biologi untuk menentukan dosis internal dari benzene diperlukan proses absorbsi, distribusi, metabolisme,
eleminasi dan ekskresi, toksisitas benzene
serta kondisi lingkungan antara dosis internal, pajanan dan akibat pajanan.

Ambang Batas Pajanan

•      OSHA

–   PEL
(Permissible exposure limit ) : 1 ppm rata-rata selama 8 jam kerja

–   STEL
(short term exposure limit) : 5 ppm, dan tidak boleh lebih dari 15 menit waktu
kerja (per sepanjang hari kerja)

•      NIOSH

–     0.1
ppm rata-rata untuk selama 10 jam kerja

–     Tidak
boleh > 1 ppm, untuk selama 15 menit

•      ACGIH

–     0.5
ppm rata-rata selama 8 jam kerja

–     STEL
(short term exposure limit) : 2.5 ppm

 

2. Tes Biologi dari Pajanan Benzene

Terdapat bermacam-macam indikator biologis terhadap pajanan benzene,
antara lain :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. Biomonitoring

Secara umum istilah biomonitoring dipakai
sebagai alat/cara yang penting dan merupakan metode baru untuk menilai suatu
dampak pencemaran lingkungan. Istilah yang lebih spesifik adalah monitoring
biologi (biological monitoring). Didalam praktek, penggunaan mobitoring
biologi (MB) adalah untuk memonitor populasi yang terpajan oleh bahan polutan
di tempat kerja maupun di lingkungan. Kegiatan monitoring dapat dipakai untuk
mengevaluasi risiko kesehatan yang berhubungan dengan bahan polutan.

Dikenal ada 3 (tiga) monitoring :

a. Monitoring
ambien untuk menilai risiko kesehatan

Monitoring ambien
digunakan untuk memonitor pajanan eksternal dari bahan kimia untuk mengetahui
berapa kadar bahan kimia di air, udara atau makanan. Risiko kesehatan dapat
diprediksi berdasarkan batas pajanan lingkungan, misalnya Threshold Limit
Value (TLV) dan Time Weighted Average (TWA) dari suatu pajanan.

b. Monitoring
biologi dari pajanan (MB pajanan)

Merupakan
pemantauan dari suatu bahan yang mengadakan penetrasi ke dalam tubuh dengan efek
sistemik yang membahayakan monitoring biologi dari suatu pajanan dapat dipakai
untuk megevaluasi risiko kesehatan. Monitoring biologi tersebut dilaksanakan
dengan memonitor dosis internal dari bahan kimia, sebagai contoh adalah dosis
efektif yang diserap oleh organisme. Risiko terhadap kesehatan diprediksi
dengan membandingkan nilai observasi dari parameter biologi dengan Biological
Limit Value (BLV) atau Biological Exposure Index (BEI)

c. Monitoring
biologi dari efek toksikan (Health Surveillance)

Tujuan monitoring
biologi dari efek toksikan dalah memprediksi dosis internal untuk menilai
hubungan dengan risiko kesehatan, mengevaluasi status kesehatan dari individu
yang terpajan, dan mengindentifikasi tanda efek negative suatu pajanan,
misalnya kelainan sistem hematopoietic.

Dengan ketiga
pendekatan tersebut, MB suatu pajanan merupakan alat penilaian yang adekuat
untuk suatu risiko kesehatan. Hal ini disebabkan oleh karena indeks biologis
dari dosis internal perlu berhubungan erat dengan efek negatif yang terjadi
dalam tubuh.

MB berhubungan
dengan pajanan bahan polutan yang masuk tubuh melalui saluran pernafasan,
saluran pencernaan dan kulit. Harus dipertimbangkan beberapa faktor yang
mempengaruhi pengambilan dan penyerapan bahan kimia dalam tubuh.

4. Penanda Biologi (Biological Marker)

Penelitian
epidemiologi terjadinya suatu penyakit atau kelainan akibat pajanan suatu agen
lingkungan seirng terhambat oleh kesulitan untuk mendapatkan informasi yang
tepat mengenai dosis dan lama pajanan. Dasar yang bisa menjadi pegangan dalam
melakukan penelitian epidemiologi lingkungan antara lain :

a. Apakah individu
telah terpajan oleh agen yang dimaksud? (ya/tidak)

b. Berapa lama
pajanan dari agen yang dimaksud?

c. Mengetahui
tingkat pajanan di lingkungan sekitar individu (misal dengan melakukan
pengukuran agen tersebut di udara bebas/lingkungan kerja)

Penanda biologi
suatu pajanan merupakan tanda biologi yang timbul sebagai akibat terpajan oleh
suatu agen lingkungan. Petanda biologi dapat diartikan sebagai suatu perubahan
sel, biokimia, atau molekul yang dapat diukur dalam media biologi seperti
jaringan sel, maupuan cairan tubuh. Dalam menentukan perkiraan pajanan,
pengukuran petanda biologi suatu pajanan dalam tubuh lebih menguntungkan
daripada pengukuran yang dilakukan diluar tubuh.

 

C.     Vitamin

Vitamin adalah suatu senyawa organik yang
terdapat di dalam makanan dalam jumlah yang sedikit, dan dibutuhkan dalam
jumlah yang besar untuk fungsi metabolisme yang normal. Vitamin dapat larut di
dalam air dan lemak. Vitamin yang larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E, dan
K, dan yang larut dalam air adalah vitamin B dan C.

Vitamin Larut Lemak

Vitamin yang larut dalam lemak merupakan
molekul hidrofobik apolar, yang semuanya adalah derivat isoprene.
Molekul-molekul ini tidak disintesis tubuh dalam jumlah yang memadai sehingga
harus disuplai dari makanan. Vitamin- vitamin yang larut dalam lemak ini
memerlukan absorbsi lemak yang normal agar vitamin tersebut dapat diabsorbsi
secara efisien. Diabsorbsi molekul vitamin tersebut harus diangkut dalam darah
yaitu oleh lipoprotein atau protein pengikat yang spesifik.

 

2.2.  
Kerangka
Pemikiran

2.3.  
Premis

Antioksidan
dapat mencegah terjadinya kerusakan sel akibat stress oksidatif, misalnya
akibat terpapar benzene.

Vitamin larut lemak (A, D, E) memiliki sifat
antioksidan.

Vitamin larut lemak (A, D, E) dapat mencegah kerusakan
sel akibat stress oksidatif, misalnya akibat terpapar benzene.

2.4.  
Hipotesis

1)      Ada
pengaruh status vitamin larut lemak (A, D dan E) terhadap kerusakan sel akibat
stress oksidatif

2)      Ada
hubungan antara paparan benzene di
industri migas terhadap kerusakan sel

Bab III

Metodologi

 

1.  
 

2.  
 

3.  
 

3.1.   Rancangan
Penelitian

Jenis
penelitian yang dilakukan adalah observasional dengan metode penelitian
bersifat kuantitatif dan memakai pendekatan desain penelitian case control.

 

3.2.   Pengambilan
Sampel

Sebelum
pengambilan sampel dilakukan, dilakukan terlebih dahulu pengisian kuesioner
oleh responden untuk mengetahui faktor risiko dan riwayat pajanan dari
responden. Kemudian dilakukan pengisian kuesioner untuk food recall, untuk mengetahui riwayat makanan dan asupan dari
responden.

Sampel
darah diambil kemudian dari masing-masing responden sesuai dengan parameter
pemeriksaan yang akan diukur (pemeriksaan benzene
darah, status vitamin (retinol, Total 25(OH)D, ?-tokoferol) dan pemeriksaan
kerusakan sel).

 

3.3.   Objek
Penelitian

Objek
penelitian adalah pekerja-pekerja dari salah satu industri migas yang ada di
Indonesia.

3.4.  
Analisis
Data

Analisis data merupakan upaya pengolahan dan analisis data dengan
pendekatan statistik (deskriptif, parametrik maupun non parametrik)

a.      
Uji
Normalitas data

b.     
Analisis
univariat

Analisis univariat untuk menganalisis data secara deskriptif yang berskala
interval/rasio

c.       Analisis bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk menganalisa hubungan atau pengaruh antara
dua variabel

d.      Analisis
Multivariat

Analisis multivariat dilakukan untuk mencari penyebab
dominant dari beberapa variabel bebas yang mempunyai hubungan atau pengaruh
terhadap variable terikat.

1. 

2. 

3. 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR
PUSTAKA

1.      Agency
for Toxic Substances and Disease Registry (ASTDR). Toxicological Profiles
for Benzene. US Department of Health and Human Service, Public Health
Service, Atlanta, Georgia, USA, September 2005

2.      Ibuki,
Y. dan Goto, R. (2004) : Dysregulation of apoptosis by benzene metabolites and their relationships with carcinogenesis, Biochimica et Biophysia Acta, 1690, 11 – 21

3.      Winn,
L. M. (2003) : Homologous recombination initiated by benzene metabolites: a potential role of oxidative stress, Toxicological Science, 72, 143 – 149

4.      Carbonari,
M., Cibati, M., dan Fiorilli, M. (1995) : Measurement of apoptotic cells in
peripheral blood, Cytometry
(Communications in Clinical Cytometry), 22, 161 – 167

5.      Roziana,
Subagio, H.w., Suhartono, Widyastiti, N.S. (2015) : Pengaruh suplementasi
vitamin e (?-tokoferol) terhadap kadar gamma glutamil transferase (ggt) dan
kadar nitric oxide (no) pada tikus (Studi pada tikus rattus novergicus strain
wistar jantan terpapar inhalasi uap benzene), Jurnal Gizi Indonesia, 3,
73 – 79