Kemiskinan tersebut, Allah memerintahkan umat islam untuk mengerjakan hal-hal

Kemiskinan memang suatu masalah klasik
yang telah terjadi sejak jaman dahulu, seperti halnya pada jaman Jahiliyah.
Rakyat miskin pada masa itu mengalami kehidupan yang sulit. Mereka dianggap
sebagai kaum hina dan rendah. Pendidikan tidak diberikan kepada rakyat miskin
pada masa itu. Hal itu mendorong rakyat miskin untuk melakukan tindak kriminal
untuk menutupi status kemiskinannya.

Berdasarkan
sudut pandang agama Islam, istilah miskin bersumber dari kata as Sakan yang berarti lawan kata dari
hal yang bergerak. Sehingga miskin menurut islam adalah orang yang ditenangkan
oleh kefakiran dan tidak memiliki sesuatu yang dapat mencukupi kebutuhan
hidupnya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

“Telah
menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Ja’far, ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Syarik bin Abu
Namir bahwa Atha bin Yasar dan Abdurrahman bin Abu ‘Amrah Al-Anshari keduanya
berkata; Kami mendengar Abu Hurairah r. a berkata; Nabi saw. bersabda: “Orang
yang miskin bukanlah orang yang merasa telah cukup dengan satu atau dua buah
kurma, atau sesuap atau dua suap makanan. Tetapi orang miskin adalah orang yang
tidak meminta-minta dan menunjukan kemiskinannya kepada orang lain. Jika kalian
mau, bacalah firman Allah: “Mereka tidak meminta-minta kepada orang lain.” (H.
R. Al-Bukhari)

Berbagai solusi
mengenai pengentasan kemiskinan telah tertulis di dalam Al-Quran. Banyak surat
dan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang kemiskinan di dunia dan
bagaimana mengatasinya. Ayat-ayat tersebut dibagi menjadi tiga pokok, yaitu
mengenai kewajiban individu, kewajiban masyarakat, dan kewajiban pemerintah.

Pertama, kewajiban individu dalam menanggulangi kemiskinan salah satunya yaitu
dengan bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mencari pekerjaan. Dari
berbagai agama yang ada di muka bumi, Islam merupakan agama yang sangat
menjunjung tinggi nilai kerja keras. Dalam islam dikenal istilah etos kerja,
yang menurut Nurcholish Madjid berarti pandangan hidup dan keyakinan orang
islam bahwa kerja memiliki kaitan dengan cara memperoleh rizki dan ridho Allah.
Al-Quran telah menjelaskan mengenai etos kerja bagi orang mukmin, diantaranya
QS Al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi : 

Artinya
: “Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ” Berilah kelapangan di
dalam majlis-majlis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang
kamu kerjakan” (QS Al Mujadilah : 11)

Dalam ayat tersebut,
Allah memerintahkan umat islam untuk mengerjakan hal-hal baik yang diridhai
Allah. Hal tersebut mencerminkan bahwa Allah memerintahkan kaumnya untuk
melakukan pekerjaan yang baik dan halal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selain itu, ayat tersebut juga menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat
orang-orang beriman yang memiliki ilmu pengetahuan yang baik. Agama islam
menerangkan bahwa amal dan kerja adalah salah satu bukti dari keberadaan
manusia. Maksudnya adalah dengan kerja keras dan amal baik yang dimilikinya,
manusia dapat mencapai kesejahteraan dalam hidupnya. Apabila di daerah tempat
tinggal masyarakat tidak terdapat lapangan pekerjaan yang layak, Allah melalui
kitab-Nya menganjurkan umat muslim untuk berhijrah ke tempat lain untuk mencari
pekerjaan, seperti yang dijelaskan dalam QS An-Nisa ayat 100.

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati
di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa
keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka
sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang”
(QS An Nisa : 100)

Kedua, kewajiban masyarakat.
Sebagai sesama muslim, Allah telah menganjurkan kita untuk saling membantu satu
sama lain. Salah satu bentuk dari kewajiban masyarakat adalah dengan memberikan
sumbangan atau zakat. Mereka yang tergolong dalam kalangan atas dan
berkecukupan hendaknya membantu rakyat miskin yang membutuhkan bantuan. Hal
tersebut telah dijelaskan dalam QS Al-Dzariat ayat 19.

                                                                                                                                        

“Dalam harta mereka ada hak untuk (orang miskin yang
meminta) dan yang tidak berkecukupan (walaupun tidak meminta)” (QS Al-Dzariat
:19)

Sudah sewajarnya masyarakat yang berkecukupan membantu sodaranya
yang lebih membutuhkan. Berbagi kepada sesama tidak akan mengurangu rezeki
orang tersebut, tetapi justru dapat menambah rezeki dan pahala orang tersebut.

Ketiga, kewajiban
pemerintah. Sebagai khalifah atau pemimpin yang dipilih dan diberikan amanah
oleh rakyat, sudah seharusnya pemerintah memberikan yang terbaik bagi
rakyatnya. Mencukupi dan memenuhi kebutuhan rakyat adalah salah satu tugas
pemerintah.

Dalam pandangan islam, seseorang yang diuji oleh Allah dan ia
menerimanya dengan segala keimanan sesungguhnya termasuk orang-orang yang kelak
dimuliakan oleh Allah SWT, seperti yang tercantum dalam QS Saba ayat 15-16.

Artinya : “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan
diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: Tuhanku telah memuliakanku.
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata:
Tuhanku menghinakanku” (QS Saba : 15-16)                                                                                                             

Kemiskinan merupakan musuh bagi umat islam yang harus dicari solusi dan
mengimplementasikannya pada masyarakat agar kelak kehidupannya dapat menjadi
lebih baik.      

BAB
III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

                Pengentasan
kemiskinan merupakan salah satu tujuan besar dari Sustainable Development Goals. Kemiskinan merupakan suatu kondisi
dimana seseorang memiliki kualitas hidup yang serba terbatas dan kekurangan
sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan serta hak-hak dasarnya. 

            Terdapat berbagai faktor yang dapat
menyebabkan kemiskinan, seperti rendahnya tingkat dan kualitas seseorang,
kebijakan pemerintah yang memberatkan rakyat miskin, keterbukaan diri terhadap
teknologi yang rendah, dan keadaan geografis yang berbeda-beda. Selain itu,
faktor-faktor dari dalam diri individu tersebut juga dapat mempengaruhi
kemiskinan. Misalnya saja kondisi fisik yang cacat akan mengurangi kemampuan
seseorang untuk dapat memenuhi kebutuhannya.

            Indonesia merupakan salah satu negara
dengan penduduk miskin terbesar. Tidak sedikkit rakyat Indonesia yang hidup
serba keterbatasan. Bahkan, masih ada penduduk yang berpenghasilan tidak lebih
dari Rp20.000 perhari. Listrik dan infrastruktur lainnya pun tidak dapat
dinikmati semua penduduk Indonesia secara merata.

            Masalah kemiskinan yang tak kunjung
berakhir memberikan banyak dampak bagi kehidupan rakyat Indonesia. Angka
pengangguran yang semakin meningkat, kasus kriminalitas merajalela, banyak
anak-anak yang tidak berkesempatan memperoleh pendidikan yang layak, bahkan
pemberontakkan dan rasa kekecewaan rakyat terhadap pemerintah pun marak
terjadi.

            Dalam agama islam, kemiskinan
merupakan masalah yang kompleks dan merupakan salah satu bentuk ujian dari
Allah bagi umatnya. Namun, berbagai solusi telah tertulis di dalam Al-Quran,
seperti menerapkan etos kerja dalam kehidupan sehari-hari, memberikan sumbangan
ataupun infaq, berzakat, dan lain-lain. Dalam pandangan islam, sesungguhnya
orang-orang miskin merupakan kaum yang sedang diuji keimanannya oleh Allah.
Apabila dalam menghadapi ujian tersebut disertai dengan rasa keimanan maka
Allah akan memuliakan orang-orang tersebut. 

3.2 Saran

            Sebagai mahasiswa kita memiliki
peran besar untuk ikut serta mengatasi berbagai permasalahan dan dampak yang
ditimbulkan oleh kemiskinan. Karena mahasiswa bukan hanya sekedar status,
tetapi di pundak kita terdapat beban yang besar, yaitu beban amanah untuk
memperbaiki bangsa sesuai dengan salah satu peran mahasiswa sebagai agen
perubahan bagi bangsa Indonesia.