Sistem yang bisa dilakukan oleh system thinker yaitu dengan

Sistem
Thinking atau berpikir sistem adalah suatu disiplin ilmu yang memahami suatu
kondisi atau kejadian yang tidak hanya melihat pada satu pandangan namun dari
berbagai sudut pandang. Berpikir sistem untuk melihat struktur yang mendasari situasi kompleks, bagaimana memahami
bahwa suatu kondisi atau peristiwa akan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hal
ini juga mempermudah hidup yang membantu untuk melihat suatu kondisi atau
peristiwa lebih dalam dan mendetail. Hal itu yang membuat output atau kondisi
yang dihasilkan menjadi lebih akurat dan realistis.

System Thinking juga merupakan suatu proses
untuk memahami bagaimana satu individu dapat mempengruhi individu lain atau
kelompok tempat individu itu berada. Pemikiran sistem didasarkan pada beberapa
dasar prinsip – prinsip universal bahwa kita akan mulai mendeteksi semua aspek
kehidupan setelah kita bisa belajar memahami keadaan yang disekitar kita.
Pemikiran sistem perspektif karena membantu kita melihat peristiwa dan pola
dalam kehidupan kita yang baru dan menanggapi mereka dengan cara memepengaruhi
mereka.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Seseorang yang melakukan tindakan atau yang
membuat suatu konsep system thinking adalah system thinker atau yang diartikan
kedalam Bahasa Indonesia yaitu pemikir sistem.

Dalam memahami sistem ada cara yang bisa
dilakukan oleh system thinker yaitu dengan menganalisis suatu individu atau
masalah yang ada agar dapat mengetahui akar – akar permasalahan yang memicu
suatau sistem atau masalah dan juga melakukan pendekatan agar bisa memahami
objek – objek masalah dan melakukan suatu inovasi dan penyelesaian masalah.

System thinking memiliki kekuatan untuk menolong individu –
individu untuk menciptakan wawasan sistem ketika sebuah solusi diterapkan untuk
masalah – masalah yang berkelanjutan keuntungan dari pendekatan system thinking
adalah kemampuannya untuk menghadapi secara efektif tipe – tipe permasalahan
dan meningkatkan pemikiran dimana kita menciptakan hasil dalam menghadapi tanda
– tanda situasi permasalahan yang sulit karena tingkat kommpleksitas interaksi
yang luas dan tidak kefektifan solusi nyata dengan segera.

Endang dan
Lukmanulhakim (2008) menambahkan beberapa poin mengenai definisi  system thinking yaitu, system thinking
merupakan kerangka kerja untuk melihat hubbungan keterkaitan dan pola-pola dari
potret sesaat dan system thinking berisi sekumpulan prinsip, perangkat, dan
teknik yang memungkinkan kita dapat memahami permasalahan-permasalahan system
dengan lebih baik.

 

 

Sejarah Sistem
Thinking

Systems thinking
memiliki dasar dari berbagai sumber seperti konsep Hollis milik Jan Smuts tahun
1920-an, teori sistem yang dikemukakan oleh Ludwig von Bertalanffy pada tahun
1940-an, dan cybernetics yang dikemukakan oleh Ross Ashby tahun 1950-an. Bidang
tersebut kemudian dikembangkan oleh Jay Forrester, seorang professor di MIT ,
pada tahun 1956. Dalam buku The Fifth Discipline karya Peter Senge (1990),
menjelaskan bahwa systems thinking merupakan pilar / konsep dasar dari learning
organization. Pemikiran sistem lunak terus berkembang dan kemudian mendapatkan
dasarnya, terutama didalam bidang sistem informasi.

Publikasi karya ilmiah
milik Weiner (1948) mengenai cybernetics dan Von Bertalanffy (1968) mengenai
general system theory , telah membentuk penedekatan sistem ini menjadi disiplin
ilmu. Pendekatan ini kemudian menjadi popular dan berhasil pada tahun 1950-1970.
Pada akhirnya, pendekatan ini dinilai sebagai metode yang paling mempengaruhi
ilmu pengetahuan manajemen dan membawa perubahan di beberapa bidang ilmu.

Pada tahun 1994 George
Richardson dalam “Systems Thinkers, Systems Thinking” menunjukkan bahwa ide dari
berpikir secara sistematik pada suatu masalah memiliki sejarah panjang di
berbagai bidang. Richardson mengatakan istilah systems thinking hanya mulai
digunakan pada bidang sistem dinamis akhir tahun 1980-an. Dalam special issues
dari “Systems Dinamic Review” selama satu dekade belum ada yang menjelaskan
mengenai definisi dari systems thinking yang diterima oleh semua komunitas
sitem dinamis, karena itu Richardson mengembangkan sebuah proyek untuk menguji
seluruh atribut dari pemikir sistem. Hingga akhirnya system thinking mulai
diimplementasikan di semua sekolah selama 20 tahun terakhir.

Banyak peneliti juga
menunjukkan pentingnya dari systems thinking untuk meningkatkan kualitas dalam
berpikir kritis dan skill mengambil keputusan seperti Chang (2001) , Costello
(2001), Costello et al. (2001) Draper (1991) , Grant (1997), Hight (1995) ,
Lannon-Kim (1991) Lyneis and Fox-Melanson (2001) Lyneis (2000) , Richardson
(2001) , dan Waters Foundation (2006).

Karakteristik dari
System thinker

Berpikir
secara menyeluruh daripada perbagian-bagian

Melihat
sesuatu pada gambaran yang lebih besar

Mencari
tahu efek yang ditimbulkan dari suatu aksi kesisteman

Mengidentifikasi
bagaimana suatu hubungan bisa mempengaruhi sistem

Mengerti
konsep dari perilaku dinamis

Mengerti
bagaimana cara struktur sistem membentuk perilaku sistem

Melihat
sesuatu dari sudut pandang yang berbeda

Karakter dari Systems
Thinking mampu menyelesaikan permasalahan yang sulit dengan sangat efektif
apalagi yang didalamnya melibatkan permasalahan kompleks, memiliki banyak
masukan baik internal maupun eksternal dan masalah yang sangat bergantung pada
kejadian di masa lalu.

Karakter system
thinking yang membuat system thinking efektif secara ekstrim pada tipe – tipe
permasalahan yang sulit untuk diselesaikan yaitu meliputi isu – isu yang
kompleks yang tergantung pada tujuan – tujuan besar yang saling bergantung pada
tindakan – tindakan di masa lalu, dan hal tersebut berasal dari koordinasi yang
tidak efektif dari elemen – elemen sistem.

Manfaat
dari system thinking

1. penyelesaian
masalah dengan pendekatan yang bekerja sama sebagai pemecah masalah

2. memperlihatkan
fenomena dasar yang berkembang dan berinteraksi dengan hal – hal yang berkaitan
dengan fenomena tersebut.

3. menerima hal – hal
yang baru berkembang dengan cepat, untuk meningkatkan efektivitas dari struktur
organisasi dan lingkungan.

4. bekerja sebagai tim
untuk menangani proyek maupun masalah yang ada diproyek yang memerlukan
pemikiran besar, visi misi dan strategi yang digunakan untuk suatu perusahaan,
organisasi, lingkungan yang diterapkan menurut keahlian masing – masing.

5. memiliki jalan yang
lebih efektif dalam berurusan dengan permasalahan, berpikir strategi yang lebih
baik. Tidak hanya menyelesaikan masalah tetapi juga mampu untuk merubah
pemikiran yang menyelesaikan masalah.

6. membantu melihat
kesalahan – kesalahan dengan lebih jelas.

7. metode untuk
menolong individu untuk mengatur dirinya sendiri dan yang lain dengan llebih
efektif.

8. kemampuan untuk
melihat pengaruh – pengaruh yang menguntungkan dalam kehidupan. Individu akan
memiliki kemampuan untuk memprediksi 
sebuah perisitiwa dan mempersiapkan untuk mengahadapinya.

System
thinking untuk ilmu sosial

Dalam perspektif pendekatan sistem sosial tidak
bisa dipahami dengan menguraikan bagian – bagian masalah satu persatu.
Menguraikan bagian – bagian sistem sosial dapat menghilangkan jati diri sistem
yang terletak pada interaksi antar bagian bagian tersebut. Berpikir kesisteman
adalah suatu disiplin ilmu untuk melihat struktur yang mendasari situasi
kompleks, dan untuk membedakan perubahan tingkat tinggi terhadap perubahan
tingkat rendah.

Berpikir
sistem dengan berpikir sistemik berbeda, berpikir sistemik yaitu mencari dan
melihat segala sesuatu berdasarkan kerangkametode tertentu, ada urutan dan
proses pengambilan keputusan.

Studi kasus System Thinking

Tawuran antar siswa sekolah

Sebagai
siswa yang terpelajar seharusnya malu untuk melakukan tawuran antar siswa.
Namun akhir-akhir ini aksi tawuran yang dilakukan oleh siswa ini membuat resah
sekolah, dan masyarakat.

 

Salah
satu cara yang dilakukan oleh system thinker yaitu dengn melakukan pendekatan
dan menganalisis faktor apa saja yang membuat siswa melakukab tawuran.

Faktor-faktor yang memicu terjadinya tawuran

1. faktor lingkungan

Lingkungan
yang tidak ramah terhadap pelajar yaitu orang – orang yang ada dilingkungan
siswa/pelajar itu tinggal kumuh dan terdapat orang – orang yang kasar yang
melakukan tindakan tidak terpuji seperti adu domba atau tidak rukunnya antar
warga dilingkungan tersebut. Dan kurangnya pendekatan terhadap individu anak
sehingga anak merasa kurangnya perhatian dari keluarga untuk anak yang sedang
mencari identitas dirinya.

2. faktor keluarga

Rumah
tangga yang tidak harmonis dan seringnya melakukan kekerasan didalam rumah
tangga jelas sangat berdampak pada pertumbuhan anak yang meningkat remaja.
Karena ia berpikir bahwa kekerasan menjadi suatu hal yang wajar karen ia besar
didalam keluarga yang memakai kekerasan.

3. faktor sekolah

Sekolah
yang hanya melakukan pengajaran yang monoton yang tidak mengembang kreativitas
atau kemampuan yang di diri siswa merangsang siswa untuk melakukan kegiatan
diluar sekolah.

4. faktor diri sendiri

Siswa
atau anak yang mempunyai kepribadian yang sulit beradaptasi terhadap
keberagaman situasi yang ada disekitarnya sehingga memicu tekanan terhadap anak
/ siswa yang kurang mampu memahami dan menyelesaikan masalah yang ada. Sehingga
memenuhi emosi dengan perkelahian menjadi solusi bagi mereka.

Konsep penedekatan yang dilakukan untuk solusi
tawuran antarsiswa

1. kerja sama orang tua dan sekolah

Sekolah
dengan melakukan kerjasama terhadap orang tua / keluarga untuk melakukan
perhatian kepada siswa-siswa yang melakukan tawuran dan memberikan pemahaman
tentang tidak baiknya dan merugikannya melakukan tawuran

2. membuat ekstrakulikuler disekolah

Sekolah
membuat program ekstrakulikuler yang dapat mengembangkan bakat dan kemampuan
siswa sehingga ia disibukkan dengan kegiatan – kegiatan yang positif sehingga
tidak membuat siswa bermain diluar sekolah.

3. membuat peraturan tegas tehadap siswa yang
melakukan tawuran

Sekolah
dengan tegas membuat peraturan kepada siswa yang nelakukan tawuran missal,
dengan melakukan surat peringatan pemnggilan orang tua namun jika masih
melakukan tawuran siswa akan diberhentikan dari sekolah dan diblacklist dan
juga akan dilaporkan ke pihak yang berwajib, sehingga siswa segan untuk
melakukan tawuran.

4. menjalin hubungan antar sekolah dan berkolaborasi
antar sekolah lain

Sekolah
bisa membuat  kegiatan studi banding atau
melakukan pertemuan antar sekolah lain untuk mengenal sekolah lain dan menjalin
silahturahmi antar siswa. Dan melakukan belajar bersama sehingga adanya kerja
sama yang terjalin dan mengurangi dampak perselisihan yang memicu tawuran.

 

Dampak yang tidak diharapkan dalam penyelesaian
masalah

Penyelesaian
suatu masalah sering menimbulkan masalah baru yang tidak di duga sebelumnya.
Sering juga kita menganggap sebagai efek samping atau dampak  dari masalah sebelumnya. Sebenarnya dampak
tak terduga ini terjadi karena tidak memahami dengan baik struktur masalahnya,
sehingga luput dari perhatian system thinker. Karena masing – masing tidak
paham permasalahan keseluruhan maka masing – masing punya keputusan dan
pandangan yang berbeda untuk permasalahan yang sama. Atau sebaliknya, memilih
keputusan yang sama untuk persoalan yang berbeda. Oleh karena itu perlu kerja
tim yang solid dan penyatuan pemikiran yang matang sebelum menganalisis dan
melakukan pendekatan terhadap suatu masalah.